Searching...
Minggu, 28 Agustus 2011

Akses menuju Api Biru Di Kawah Gunung Ijen Banyuwangi

Kawah Gunung Ijen 
Gunung Ijen adalah gunung berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini berada pada ketinggian 2.443 m dan telah empat kali meletus (1796, 1817, 1913, dan 1936). Untuk mendaki ke gunung ini, anda dapat berangkat dari Bondowoso ataupun dari Banyuwangi.

Catatan Perjalanan Menuju Kawah Ijen 

07 Sept 2011

Pagi ini saya, Teddy, n Rosi mau backpackeran ke kawah ijen. Rencana awal, ngumpul dirumah jam 9, tapi berhubung semalam kita diajak temen2 rumah futsal dari jam 11 malem ampe jam 2 pagi, dan baru merem jam 3 pagi, maka tepar lah kita dipagi hari,,, ga ada yang bangun hehehe. Alhasil kita baru ngumpul sekitar jam 11 siang, beli keperluan di Indomart, packing, n brangkat jam 1 siang. Tadinya kita berniat naik Kereta Api Ekonomi menuju ke stasiun Karang Asem Banyuwangi tapi ternyata karna kita udah kesiangan jadinya kita ketinggalan kereta (Kereta nya brangkat jam stg 2). kita lalu menuju ke terminal Bungurasih untungnya kita dianterin sama Haryo n Bangkir ke stasiun, jadi sekalian dianter ke terminal pas tahu kita ketinggalan kereta (Thanks a lot sob).

Nah sampe di Terminal Bungurasih kita udah kayak artis yang lagi jalan di red carpet dikerumuni fans2 yg lg pada histeris. Bedanya kita disini kagak diajak salaman ato difoto tapi malah ditarik2 ama calo terminal buat ikut busnya hahaha ga keren amat. Makin lama makin banyak calo yg mengerumuni, buset dah ni terminal kok lebih banyak calo n preman daripada penumpang, heran deh. Daridulu saya emang paling anti ke luar kota naik bus, klo ga bner2 terpaksa ga bakal mau, soalnya di terminal2 dimana aja, sering banget liat n ngalamin sndiri kasus penipuan, kayak salah satu cerita saya "penipuan sepanjang perjalanan menuju curug malela". Sebenarnya salah terminalnya apa salah saya yang gampang ketipu ya ?? Terbukti waktu kita mau brangkat kita dapet bus abal2 yg ga jelas dengan tarif ekonomis (Rp.60rb/orang sampe banyuwangi) padahal sebenarnya harganya ga sampe segitu, harga asli yg tertulis diterminal tuh cuman sekitar 40rban. yaudahlah mungkin karna masih keitung arus balik abis lebaran jadi tarifnya masih naik, trus waktu tas kita udah masuk ke bagasi blakang n kita udah duduk manis nunggu keberangkatan di bus ada orang yg bertampang sangar dateng minta dibayar 20rb buat ongkos bagasi katanya tas keril yg kita bawa bikin penuh jadi harus bayar bagasi total 3 tas Rp.20rb, berhubung ga mau ribut yaudahlah dikasih aja ama Rosi (selaku bendahara dadakan kita hehe).

Akhirnya bus kita berangkat... dan perjalanan kita pun dimulai dengan tawa ceria dan khayalan2 bakal seindah apa perjalanan kita nanti, tanpa kita tahu ada berbagai macam masalah, siluman dan rintangan menanti didepan.. ceilee udah kaya mau mencari kitab suci ke barat aja ditunggu rintangan dan siluman hahaha... sekitar 3 jam berlalu bus kita berhenti untuk makan didaerah probolinggo (kalo gak salah).. sesudah dari situ perjalanan dilanjutkan dan berhubung perut sudah terisi maka kita pun mulai melanjutkan mimpi yang tertunda pagi tadi. Sayangnya belum genap 2 jam kita istirahat, bus tiba2 berhenti didepan SPBU (entah didaerah mana), lalu kita terbangun gara2 suara kernet bus yang teriak2 nyuruh separuh penumpang yang tujuannya masih jauh untuk turun dan transit ke bus lain yang ada di sebelahnya.. hampir saja kita lupa kalo kita bawa tas.. karna kernet dan sopirnya menyuruh turun secara buru2 dan posisi kita masih setengah sadar.. kebingungan apa yang terjadi x_x ...

Tadinya kita masih ragu, apakah disuruh bayar lagi atau oper aja. Akhirnya kita nurut aja sama kernetnya karna nyawa masih setengah dan orang2 sudah pada pindah.. sebelum bus transitnya berangkat dan kita ketinggalan, karna kita pindah ke bus lain yg sudah terisi penumpang, duduk kita pun terpecah2.. sekitar 3 jam setelah bus jalan, dan mulai memasuki daerah Jember, bus berhenti di terminal Jember, dan sekali lagi kita dioper ke bus lain, untungnya bus ini masih kosong jadi kita bebas memilih tempat duduk.. kita duduk jejer bertiga dibagian paling belakang, saya dipaling ujung menghadap ke jendela, teddy kejepit ditengah dan si rosi dipinggir dekat pintu belakang disebelah kakek2 yang sudah cukup tua.. kita nungguin bus penuh sambil ngobrol setengah protes dengan sistem transportasi di Indonesia yang pelayanannya bener2 payah.. masa masih seputar jawa timur bus kita dioper sampe 2 kali.. ckckck terrr laaa luuu...

Gak lama kemudian, bus mulai jalan, dan ternyata saat baru berjalan 200 meter, bus berhenti lagi cukup lama, hampir sejam bus ini ngetem didepan terminal.. saat keadaan mulai membosankan datanglah orang yang mengaku sebagai kernet (kenek) dan bertanya kepada penumpang sekalian,.. "siapa tadi yang tas nya hilang... ???" lalu ada yang ngaku pake logat aneh... "saya bang" mereka pun ngobrol2 sambil teriak2 karena penumpang tsb berada ditengah dan kernetnya berada di depan.. mau tidak mau kita semua jadi ikut mendengar percakapan mereka yang intinya si penumpang ini kehilangan tas karna tadi disuruh pindah bus dan busnya udah berangkat... sedangkan semua uang, handphone, dan harta berharganya ada didalam tas dan dia harus pulang ke kalimantan karna dia cuma datang ke jawa mengunjungi sahabatnya.. didompetnya cuma ada 15rb rupiah.. dan dilengannya ada jam tangan emas (ngakunya sih emas cuy..)... dan dia mau menjual jam tgn tsb, tapi toko emas jam segitu udah pada tutup.. jadi singkat kata terjadilah tawar menawar antara si kernet dan si penumpang namun ada banyak hal yang aneh terlihat dalam percakapan ini, pertama2 sungguh bodoh si korban yang menaruh seluruh harta bendanya dalam satu tas yang ditinggal di bagasi bus sedangkan dia berada di tempat asing (luar pulau). kedua, si korban yang mengaku asli Kalimantan berbicara dengan bahasa indonesia yang berlogat Madura. dan mereka bercakap2 seakan2 berharap ada penumpang lainnya yang akan membeli jam tangan ini, dan yang paling aneh lagi, si kernet bisa langsung tahu dengan sekali lihat kalo jam yang mau dijual adalah emas 22 karat serta standard harga emas 22 karat di daerah sana, padahal jarang ada kernet yang memiliki pengetahuan seperti itu kalo dia ga kerja di toko emas.. karna biasanya yang hapal harga emas diluar kepala hanyalah ibu2 dan orang2 yang suka investasi emas.. (yang ini sih pendapat pribadi saya hehe).

Saat si kernet dan penumpang aneh itu sedang sibuk menawarkan barang dagangan tersebut, kakek2 tua yang duduk disebelahnya si rosi berkata kepada si rosi sambil tersenyum, "Ojo' dpercoyo ngene ngene iki le.. Tipu tipu iki le..." artinya, "jangan dipercaya yang beginian ini nak, ini cuman penipuan aja" dan saat si kakek berbicara seperti itu rupanya didengar oleh salah satu komplotan preman penipu yang berdiri didekat si kakek, sesudah sandiwara perdagangan tepu2 yang diperagakan si kernet dan si penumpang berakhir dengan kegagalan karna tidak ada penumpang yang tertarik ataupun cukup bodoh untuk membeli jam tangan tersebut, maka para aktor2nya pun akhirnya turun dari panggung satu per satu (turun dari bus).. diawali dengan si kernet, kemudian setelah kisaran 5 menit berlalu maka si penumpang yg ngakunya kehilangan tas ini pun turun, saat berpapasan dengan komplotannya yg tadi mendengar percakapan si kakek dengan rosi, temannya ini membisikan sesuatu yang dugaan saya adalah memberitahu apa yang telah dikatakan si kakek tadi saat mereka sedang bersandiwara..

Spontan si preman yang pura2 nyasar ini berang dan menarik kerah baju kemeja sang kakek sambil membentak si kakek dengan bahasa Jawa Timur yang kasar serta logat Madura yang kental "Aku iki golek sandang pangan gae anak bojo c*k" (Aku ini nyari makan buat anak istri *sensor*), saat melihat si preman marah dan ingin memukul si kakek otomatis tangan si rosi (temen ane) menepis pukulan si preman.. si preman pun makin marah gara2 gagal memukul si kakek, dan berkata kepada si rosi "Ga usah melok2 kon arek cilik" (Ga usah ikut2 kamu anak kecil). lalu untuk kedua kalinya si preman melayangkan tangannya ke arah sang kakek dan sekali lagi ditepis oleh si rosi.. si preman pun muntab dan gantian mencengkram kerah kaos yang dipakai si rosi sambil berkta "Wani kon tibake ???" (Kamu berani ya ternyata ??)... Ayok mudhun,, dimarikno nang njobo ??" (Ayok turun diselesaikan diluar ??).. si rosi cuman menjawab "Sakno mas.. wong tuek iku" (Kasian mas,, orang tua itu).. Si Preman ga peduli dia terus berusaha menarik si rosi disuruh turun.. sambil mencoba menampar rosi.. untungnya si rosi tidak terpengaruh untuk turun... karna kalo sampai si rosi turun maka kita bertiga pasti dihabisi oleh seluruh preman di terminal itu :p... setelah malu kedoknya terbuka dan lelah mengajak si rosi duel akhirnya si preman itu pergi bersama temannya... semua orang yang berada di dalam bus hanya bisa diam dan pura2 tidak tahu apa2 saat kejadian tersebut berlangsung.. saya dan teddy pun hanya diam tak berkata apa2.. tetapi dalam hati, saya sangat salut kepada sahabat saya yang satu ini.. dia laki2 pemberani, walaupun dia sebenarnya takut, tapi dia berani melawan ketakutannya dan tidak tinggal diam saat si preman hendak memukul kakek yang duduk disebelahnya... Saya sendiri belum tentu bisa seberani dia saat berada dalam posisi seperti itu.

Setelah kejadian yang cukup tegang itu terjadi, tidak lama kemudian bus pun berjalan dan kami pun lega dan saling tersenyum melihat kita semua baik2 saja termasuk si kakek :D... sesaat kemudian kita tertidur.. saat kita terbangun bus sudah sampai di Terminal Brawijaya Banyuwangi dan jam menunjukan pukul 3 pagi, kita pun turun dan makan di terminal karna dari sore perut kita kosong belum diisi apa2.. sambil kita cari informasi dari ibu penjual makanan di warung bagaimana akses menuju ke desa tamansari kecamatan licin. Setelah dari situ kita nongkrong sambil gantian tidur didepan indomart yang terdapat kursi dan meja untuk istirahat sampai pagi.

 Foto di warung Terminal Brawijaya


Saat pagi menjelang, kita pun bersiap2 melanjutkan perjalanan, setelah kita tanya2 akses menuju ke desa tamansari kecamatan licin, ternyata sudah tidak ada transportasi umum yang lewat kesana, terminal didaerah karang asem tempat angkutan umum yang menuju desa licin mangkal pun sudah tidak aktif lagi. Akhirnya kita memutuskan untuk mencharter angkot dari terminal brawijaya menuju ke desa tamansari dengan biaya Rp.80.000,-. Dari desa Tamansari ini kita berjalan sesuai petunjuk warga sekitar menuju tempat mangkalnya truk belerang yang dijadikan akses penambang menuju ke kawah ijen, ditengah jalan kita berpapasan dengan pak Madrusin salah seorang penambang belerang di kawah ijen yang baik hati, saat berpapasan beliau langsung mengajak salaman sambil menebak tujuan kita, "mau ke kawah ijen ya ??, saya juga mau kesana, saya kerja disana. Kita berangkat sama2 saja.. mari saya antarkan ke lokasi truk pengangkut belerang ke kawah ijen".


Menuju Rumah Pak Madrusin


Sambil berjalan kearah tempat truk belerang, Pak Madrusin kemudian mengajak kita mampir dulu ke rumahnya, katanya kita masih terlalu pagi kalo mau nunggu truk belerang, dari pak Madrusin inilah kita tahu jadwal truk belerang ke kawah ijen, truk belerang berangkat jam 08.30 pagi dan kembali jam 11 siang, khusus hari Jum'at truk libur. Setelah sampai di rumahnya kami disuguhi jajan dan minuman serta dikenalkan ke keluarga pak mad, kemudian kami ngobrol banyak tentang pesona kawah ijen serta api biru yang menjadi tujuan utama kami, tak terasa hari sudah terang dan kita harus segera berangkat meuju ke pangkalan truk. Di Pangkalan truk kita berkenalan dengan penambang2 lainnya, semuanya ramah dan baik, ada saudara pak Madrusin juga yang suka bercanda, namanya mas Ribut Santoso, bahasanya lucu, berlogat banyuwangi campur bali karena beliau lama kerja di bali sebelum jadi penambang belerang.

Mas Ribut Santoso


Pak Madrusin

Rupanya pagi itu hari pertama para penambang bekerja lagi setelah libur lebaran selama seminggu lebih, suasana di truk belerang pagi itu masih diselimuti suasana lebaran, kita saling salam2an maaf lahir batin, Sungguh terasa begitu hangat perjalanan kami menuju kawah ijen di bak kecil belakang truk belerang, dipenuhi canda tawa dan cerita cerita para penambang selama lebaran kemarin ditambah dengan pemandangan pedesaan yang indah. Satu lagi hal berharga yang kami dapatkan disini, meskipun pekerjaan mereka sangat menyiksa fisik, harus menempuh perjalanan yang jauh, berpanas2 ria dan berhimpitan di bak truk berbau belerang yang menyengat, dan melelahkan dengan upah yang sangat sangat kecil, namun mereka berangkat bekerja dengan penuh semangat dan tawa ceria seakan2 tak ada beban apapun yang dipikul. seperti kata pepatah "Jika anda ingin berbahagia seumur hidup maka cintailah pekerjaan anda".

Selama perjalanan sesekali truk akan berhenti di beberapa titik dan naiklah penambang penambang belerang dari desa2 tsb yang semakin meramaikan suasana ceria pagi itu, Setelah hampir 30 menit perjalanan melalui pedesaan dan perkebunan yang indah, kini udara semakin sejuk dan pemandangan yang disuguhkan semakin membuat kami bersemangat, truk muatan belerang yang kami tumpangi memasuki hutan yang lebat dengan pepohonan yang tingginya puluhan meter dengan diameter batang pohon yang sangat besar, dari kejauhan nampak perbukitan hijau dan dua buah gunung yang besar entah gunung apa namanya, ditambah jalur truk yang kami lewati semakin menyempit dan dipenuhi tanjakan curam dan belokan2 tajam, serasa sedang berpetualangan ke pedalaman borneo ( cuihhh gaya bener ngomongnya, padahal ane kagak pernah ke Kalimantan :p)

Setelah hampir 2 jam perjalanan menuju desa paltuding yang merupakan pintu gerbang utama menuju Cagar Alam Wisata Taman Wisata Kawah Ijen, akhirnya truk kami pun berhenti dan kami semua turun. Kami membayar sopir truk 20rb untuk bertiga, harga yang sangat murah untuk perjalanan yang cukup jauh ditambah teman2 baru dan keramahan yang kami dapat selama perjalanan. setelah truk benar2 berhenti para penambang bergegas turun mengambil peralatan mereka dan mulai berjalan terlebih dahulu menuju kawah yang jaraknya masih sekitar 2 jam menanjak dari tempat pemberhentian truk tsb. Seusai  berpamitan dengan pak Madrusin dan para penambang lainnya,  kami menuju ke pos perijinan mengikuti arahan petunjuk yang diberitahu pak Mad saat berpamitan, jarak pos perijinan sangat dekat, hanya sekitar 10 menit dari tempat pemberhentian truk belerang.

Di pos perijinan ini kami membayar tiket masuk pengunjung ke pegawai yang ada disana, sekitar 20rb/orang (maaf saya lupa yg pasti tidak mahal kok). Di dekat pos perijinan terdapat 2-3 warung tempat makan dan lapangan parkir yang kebanyakan berisi mobil2 4WD. Suasana disini sudah mulai terasa dingin walaupun saat itu jam menunjukan pukul 11 siang, kami pun singgah di pondokan kosong yang terbuat dari kayu untuk bersantai2 sejenak sambil memasak mie goreng. Saat bersantai disini rupanya ada seekor kijang liar yang sedang merumput tidak jauh dari lokasi kami, tapi saat hendak memotret moment ini, kijangnya keburu kabur sehingga kami tidak dapat menangkap gambarnya dengan jelas.


Turun Dari Truk Belerang Menuju Pos Perijinan


Nemu Kijang Liar Di belakang Pos Perijinan

Sesudah bersantai2 cukup lama di pondokan kosong, kami pun mulai bersih2 dan melanjutkan perjalanan menuju ke Kawah Ijen. Kami berniat bermalam di pos bunder yang jarak tempuhnya sekitar 2KM menanjak dari pos perijinan, seharusnya perjalanan ini bisa ditempuh dalam waktu 2 Jam jika santai, tapi kami bertiga menempuhnya selama 3 jam karna sangat2 santai hehehe.. setiap beberapa menit kami berhenti untuk mengambil gambar dan beristirahat menikmati suasana karna kami tidak terburu2. Selama perjalanan ini kami banyak menemui penambang yang sedang beristirahat maupun berlalu lalang memikul belerang. Kami juga menemui beberapa ekor kera selama perjalanan. Kata salah satu penambang, disana ada seekor kera berwarna orange yang jarang menampakkan dirinya.


Kera yang sedang bermain dapat anda temui selama perjalanan



Penambang yang sedang bekerja memikul belerang

Sesudah berjalan dengan sangat sangat santai selama 3 Jam akhirnya sampai juga kami di pos bunder, didekat pos ini terdapat warung yang menjual mie instant dan beberapa biskuit serta jajan dan minuman untuk bersantai sejenak. Tepat disamping warung ini terdapat pos untuk penimbangan belerang. Disini kami baru tahu berat satu bakul belerang yang dipikul kurang lebih seberat 35-50 Kg sedangkan satu orang penambang umumnya memikul 2 bakul belerang, berarti sekitar 70-100Kg / orang. Dan mereka dibayar sebesar 50rb untuk sekitar 40Kg belerang. Bayangkan saja untuk mendapat upah 100rb anda harus naik turun gunung memikul beban seberat 80Kg... Bersyukurlah kita yang tidak perlu bekerja seberat itu untuk bertahan hidup. Info ini kami dapat dari obrolan kami dengan salah satu penambang yang sedang beristirahat disana.

Saya sempat bertanya pada penambang tsb, kenapa kok gak pake gerobak aja biar lebih ringan bebannya. Saya cerita kepada penambang tsb bahwa saya pernah ke gunung Welirang di jawa timur dan disana mereka menggunakan gerobak untuk membawa muatan belerang turun ke bawah dan rasanya itu jauh lebih memudahkan pekerjaan mereka, tapi penambang tersebut menjelaskan kepada saya bahwa cara itu memang praktis tapi dampaknya akan merusak alam, roda gerobak dan rem nya yang dari kayu akan menggerus tanah berpasir dijalur trekking dan membuat pemandangan serta jalur trekking menjadi jelek serta rusak, mereka (penambang kawah ijen) telah sepakat akan tetap memikul belerang dipundak mereka agar kelestarian alam dapat selalu terjaga. Saya sungguh takjub mendengar apa yang mereka katakan, mereka mau meninggalkan cara praktis dan malah bersusah payah memanggul belerang agar alam dan kawah yang mereka cintai dapat selalu terjaga keindahannya, mereka pantas dibilang Superman karena bukan hanya kekuatan fisik mereka saja yang hebat, namun mereka juga memiliki hati yang luar biasa.

Setelah bersantai dan mengobrol di warung dengan beberapa penambang yang sedang berhenti sejenak menimbang belerang, kami pun menuju ke belakang pos bunder dan mulai mendirikan tenda disana. Kami beristirahat hingga pukul 2 pagi, suhu di pos bunder saat itu sangat dingin, rasanya sekitar 5 derajat, suhu nya lebih dingin dari suhu gunung bromo saat dinihari. Kamipun mulai melipat tenda dan menyiapkan keperluan kami untuk memulai treking. Kami sengaja memulai perjalanan pada jam 2 Pagi karena kami berniat melihat api biru di kawah gunung ijen yang katanya hanya muncul pada jam 3 hingga 5 pagi. Sedangkan kata orang disana perjalanan dari pos bunder menuju ke kawah kurang lebih 1 jam lagi dan tidak begitu menanjak seperti perjalanan sebelumnya.

Berbekal senter seadanya kami pun memulai perjalanan, sebaiknya anda membawa jaket tebal dan sarung tangan serta kaus kaki double jika ingin melakukan perjalanan ke kawah ijen pada malam hari karna suhu benar2 dingin. setelah kami berjalan sekitar 1 jam, mulai tercium asap belerang yang cukup pekat, kamipun mulai menggunakan masker yang telah kami siapkan dan 15 menit kemudian kami sudah berada di bibir kawah dengan pemandangan luar biasa.. walaupun masih gelap namun pemandangan kawah ijen dimalam hari sungguh memliki daya tarik tersendiri, Kami mulai mencari cari lokasi api biru  yang katanya berada di sekitar kawah, namun tak kunjung terlihat dimana ada api biru.. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dipinggiran batu agar dapat bernapas lega sejenak karna jika berdiri di pinggiran kawah udara sungguh tipis dan sesak oleh bau belerang.

Beruntungnya tidak lama setelah kami beristirahat, kami bertemu rombongan yang juga ingin melihat api biru dan mereka membawa orang lokal yang sudah berumur, katanya beliau adalah juru kunci kawah ijen yang akan mengantar sampai di lokasi api biru. Kami pun mengikuti rombongan tersebut dan ternyata untuk menuju ke api biru kami harus berjalan sampai ke ujung bibir kawah dan menuruni bibir kawah tersebut sampai dibawah dipusat asap belerang keluar. Saya sarankan agar anda berhati2 jika ingin menuju ke lokasi api biru kawah ijen ini karena jalurnya sangat berbahaya berjalan melewati tebing2 curam dan mendekati pusat asap belerang disamping kawah, jika arah angin sedang tidak tepat maka asap tersebut akan langsung menuju ke arah anda hingga membuat anda akan kesulitan bernapas. Entah kebetulan atau apa yang dilakukan juru kunci tersebut saat itu sehingga asap belerang tidak sampai bertiup ke arah kami yang sedang mendekat.


Pemandangan dari bibir Kawah Ijen


Api biru kawah Ijen


Setelah dari lokasi api biru kembali naik menuju bibir kawah

Sekian perjalanan kami dari Kawah Ijen, pulangnya kami naik truk belerang sampai ke desa Taman sari dan turun ke stasiun karang asem berjalan kaki sambil menebeng pick up / truk yang menuju ke stasiun karang asem. Oiya di perjalanan pulang ternyata kami bertemu dengan kera orange 30 menit sebelum tiba di pos perijinan sungguh perjalanan yang seru.. Jika saya menceritakan perjalanan pulang disini rasanya akan terlalu panjang kisahnya jadi ceritanya sampai disini aja yah hehehe.. Bagi temen2 yang mau ke kawah Ijen dan masih bingung bisa tanya kesini aja yah.. Have a nice trip..

Rute perjalanan dan Rincian Ongkos Menuju Kawah Ijen

Info didapat dari perjalanan pada 10 September 2011

1.  Kereta Api : Surabaya (Gubeng) - Banyuwangi (Karang Asem) = Bisnis Rp.100.000,
     Ekonomi Rp.30.000
     Naik Bus : Surabaya (Bungurasih) - Banyuwangi (Terminal Brawijaya) = Rp.60rb
2.  Jalan kaki ke Terminal Sasak Perot (1Km dari stasiun Karang Asem) atau bisa naik angkot Rp.5000.
3.  Angkot : Banyuwangi (Terminal Sasak Perot) - Licin (Pangkalan truk belerang) = Rp 10.000
    Tapi udah gak ada angkot yang lewat trayek ini, solusi lainnya bisa naik
    Ojek = Rp.15.000 - Rp.30.000
    Bisa juga naik Jeep Rp.400rb /
    Atau Nyewa Angkot Rp.75.000-Rp.90.000
4.  Truk : pangkalan belerang - Paltuding = Rp 10.000 (Jam 8 pagi sebaiknya sudah ada dilokasi karena
    truk berangkat jam 08.30 menuju paltuding dan kembali dari paltuding menuju desa Licin/Tamansari
    jam 11 pagi. Keberangkatan berikutnya jika ada muatan jam 12.00 dari Tamansari/Licin ke paltuding)


"Jadwal Truk jam 08.30 ... Hari  jum'at LIBUR...... "

Via Bondowoso

Ojek : Paltuding - sempol = Rp 20.000
Angkot elf : Sempol - Term Bondowoso = Rp. 35.000


NB : Bagi anda yang tidak kuat melakukan pendakian ke kawah dapat menggunakan tandu yang diangkat oleh penambang belerang mulai dari desa paltuding sampai ke kawah dan turun lagi ke bawah dengan biaya Rp.500.000



Berikut ini saya kutip sedikit tulisan, foto dan Tips dari Agan di kaskus yang menjadi referensi saya melakukan perjalanan ke Kawah Ijen...

 SI API BIRU

Api berwarna biru dapat dilihat pada celah-celah bebatuan kawah Ijen, sumber api ini ada di beberapa titik. Suaranya seperti suara kompor minyak tukang nasi goreng yg keliling, menderu. Api ini tidak akan terlihat pada siang hari, hanya suaranya saja yang terdengar. Api ini hanya dapat dilihat pada saat gelap (malam / dinihari).
Saat berada pada lokasi yang cukup dekat dipinggir kawah Ijen, terkadang angin akan meniupkan asap belerang yang sangat menyesakkan tenggorokan, jadi sebaiknya siapkan saputangan basah agar anda dapat bernapas dengan tenang selama berada pada lokasi ini.

Penambang yang sedang bekerja didekat lokasi api biru


Jalur yang harus ditempuh dari bibir kawah menuju ke lokasi Api Biru


Penambang dan jalur lokasi api biru di pagi hari

Tips Tips :

  1. Berilah jalan terlebih dahulu bila berpapasan dgn para pemikul belerang.
  2. Bawalah rokok yg agak banyak bila anda perokok, karena kadang-kadang para penambang meminta rokok kepada pengunjung.
  3. Kalau anda tidak merokok bawalah permen, berilah para penambang itu, mereka sangat menghargai pemberian anda walaupun hanya sebungkus permen.
  4. Bersikaplah ramah kepada para penambang tersebut, karena mereka sangat ramah sekali terhadap pengunjung walaupun beban yg mereka bawa sangat berat.
  5. Bawalah handuk kecil atau sapu tangan untuk menutupi wajah bila asap belerang mengarah ke anda.
  6. Bawalah kembali sampah, karena sepanjang jalur pendakian jarang sekali ane ngeliat sampah, para penambang sangat peduli sekali akan kebersihan lokasi ini, karena lokasi ini adalah sebagai salah satu tujuan turis mancanegara, setiap harinya pasti ada turis yg mengunjungi lokasi ini.
  7. Kalau ingin bermalam, tersedia penginapan yg dikelola oleh petugas perhutani di pos Paltuding, smalam Rp 100 ribu, fasilitas 1 tempat tidur besar,2 selimut, 2 bantal & 1 guling doang.. ga ada yg laen
  8. Listrik dilokasi ini hanya beroperasi dari jam 7 malam sampai jam 10 malam, jadi waktu 3 jam itu bisa dimanfaatkan untuk ngecharge batere hp atau kamera... sinyal hp kadang ada kadang ilang, tp kebanyakan ilangnya
  9. Ada beberapa warung makan, tp hanya menjual makanan ringan, mie instan & nasi goreng.. ga ada lauk pauk yang laen (ayam, ikan, tahu, tempe, dll).

Sumber1 : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6120565
Sumber2 : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1944399


Tag : Akses menuju kawah ijen, rute menuju kawah ijen, cara menuju kawah ijen, bagaimana menuju kawah ijen, perjalanan menuju kawah ijen, transportasi umum ke kawah ijen, backpacker ke kawah ijen, seputar kawah ijen, meuju api biru kawah ijen, menuju lokasi api biru.

1 comments:

  1. Travel ke Banyuwangi tidak lengkap jika tidak mampir ke Kawah Ijen. Wisata alam yang cukup membuat adrenalin dan energi terkuras. Jalur tracking yg cukup terjal antara start sampai pos 4 (pos warung). Rasa lelah saat mendaki terbayar lunas ketika tiba di kawah, pemandangan yang luar biasa.

    Travel Banyuwangi

    BalasHapus